Sejarah Desa

Sejarah Desa

Pada jaman dahulu, di sekitar Ujung Korowelang disebelah sisi muara kali Bodri merupakan hutan rawa air payau yang pepohonan di hutan tersebut antara lain : Pohon api-api, pohon bakau dan pohon Pidodo.

Pohon Pidodo tingginya mencapai 7 – 10 Meter. Buahnya semacam buah dada wanita, isi buah pidodo semacam buah Delima, jika dimakan rasanya manis agak asam/ Kecut.

Pada Pemerintahan Kerajaan Demak Bintoro , Pajang dan Mataram satu-satunya jalan perhubungan dan lalu lintas niaga yang paling  lancar ialah lewat laut. Kapal-kapal dan perahu bila akan masuk di muara kali Bodri singgah terlebih dahulu di pelabuhan niaga, tempat perahu berlabuh itu dinamakan Keruk / Pelabuhan Niaga Keruk. Tepatnya Pelabuhan Keruk Ujung Korowelang.

Ujung muara kali Bodri dinamakan Ujung korowelang, itu berkaitan dengan nama Desa dikanan-kiri Kali Bodri.

Sebelah Timur Kali Bodri ada Desa namanya Korowelangwetan sekarang namanya Desa Kumpulrejo. Sebelah Barat Kali Bodri ada Desa namanya Korowelangkulon Disebelah Utaranya Desa Korowelangkulon ada Desa namanya Korowelanganyar.

Pada lalu lintas Kapal dan perahu niaga untuk keluar masuk di pelabuhan Keruk pada muara Kali Bodri di Ujung korowelang pada Pemerintahan dibawah kekuasaan tumenggung di Gambiran ( sekarang ex Kawedanan Kaliwungu ). Jabatan bandar yang dipegang oleh Ki Sutomloyo turut kekuasaan Demang Magersari ( sekarang Desa Magersari Kecamatan Patebon )Pindahnya tempat Kademangan Magersari ke Aisten Wedono di Patebon pada tahun 1900 M.

Jabatan bandar diganti oleh turunnya Ki Sutomloyo, namanya Ki Sutoleksono, petugas Bandar yang ketiga namanya Ki Kertalaksana.

Ketika Bandar dijabat Ki Kertalaksana pelabuhan Keruk di Muara kali Bodri menjadi Pelabuhan Perdagangan gula, gula tersebut dari Pabrik Gula di Puguh dan Pabrik Gula di Cepiring pada Tahun 1935 M.Pekerjaan Syah bandar diambil alih oleh Penjajah Belanda yang memegang kuasa berpangkat Onder Kontrolir.Kekuasaan dari tumenggung Gambiran ( Sekarang Kaliwungu ) pindah ke Kabupaten Kendal diantara tahun 1826 M.

Pohon Pidodo sebagai Petunjuk Kapal dan Perahu.

Dari tengah laut kapal dan perahu yang akan masuk ke Muara Kali Bodri dipelabuhan Keruk mempunyai tanda dari alam  tetumbuhan dihutan pantai. Bahasa para nelayan untuk mengatakan tanda yaitu Sanggit. Dalam bahasa jawa mereka berkata “ Yen arep labuh menyang Keruk Sanggito Pidodokulon “ artinya bila ingin masuk ke Keruk tandanya pohon hutan Pidodo yang sebelah Barat. Karena perputaran pemerintahan berjalan dalam pekerjaan bandar  dengan merintis mengelola membuat Desa .

Sesepuh cikal Bakal Desa.

 

Pada upacara Nyadran ( selamatan Desa ) pada tahun 1830 Ki Kertaleksana mengemukakan atau menyarankan bahwa Desa yang kami rintis diberi nama DESA PIDODOKULON sebagai sanggitnya bila para nelayan akan masuk ke Pelabuhan Keruk di Muara Kali Bodri.